Apa
itu pengertian Iman kepada Kitab – kitab Allah ?
Saudaraku,
menurut bahasa iman itu adalah percaya dan membenarkan. Sedangkan
menurut istilah, iman adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya
dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan amal perbuatan.
Berdasarkan pengertian iman diatas, pengertian iman kepada kitab-kitab Allah
adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa kitab-kitab Allah itu benar – benar
wahyu yang dirurunkan-Nya kepada para Rasul, tidak diragukan kebenaran
isinya agar menjadi pedoman hidup bagi umatnya. Hukum beriman kepada
kitab-kitab Allah adalah Fardhu ’Ain. Artinya kewajiban yang harus di
tunaikan oleh setiap pribadi orang yang beriman, sama dengan kewajiban beriman
kepada Allah, mendirikan shalat lima waktu, dan sebagainya. Dengan demikian,
orang yang tidak mengimani kitab-kitab Allah tidak dapat dikatakan sebagai
orang yang beriman, bahkan bisa dikatakan murtad (keluar dari agama
Islam). Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab
kepada para Nabi dan kewajiban kita mengimaninya antara lain surat Al-Baqarah
ayat 213 sebagai berikut :
َانَ
النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ
وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ
النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚوَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ
أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖفَهَدَى
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ
ۗوَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿البقرة :
٢١٣﴾
”Manusia
itu adalah umat yang satu (setelah timbul perselisihan) maka Allah SWT
mengutus para Nabi sebagai pemberi khabar gembira dan pemberi peringatan dan
menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara
manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan (itu). Tidaklah berselisih
tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab,
yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata karena
dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang
yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan
kehendak Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang-orang yang
dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah : 213).
II.
Beriman kepada Al-Qur’an, caranya adalah :
- Meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah,
bukan karangan Nabi Muhammad SAW
- Meyakini bahwa isi Al-Qur’an dijamin kebenarannya,
tanpa ada keraguan sedikitpun
- Mempelajari, memahami dan menghayati isi kandungan
Al-Qur’an
- Mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan
sehari-hari
Kedudukan kitab-kitab
allah
Kitab
Allah (kitabullah) adalah kumpulan wahyu yang disampaikan kepada
rasul-rasul-Nya untuk dijadikan pedoman hidup bagi hamba-hamba-Nya supaya
mereka hidup berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebagaiman kita ketahui bahwa
beriman kepada kitab-kitab Allah itu termasuk rukun iman yang ketiga, tidak
termasuk mukmin bagi mereka yang mengingkari atau meragukannya. Setiap agama
mempunyai kitab suci yang membuat pokok ajaran agama tersebut. Kitab suci agama
Islam adalah Al-Qur’an yaitu wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasulullah
Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Setiap surat atau ayat yang
terdapat pada Al-Qur’an semuanya wahyu Allah, tidak ada satupun yang bukan
wahyu-Nya. Isi kitab suci Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi seluruh Umat
Islam, bahkan menjadi petunjuk bagi Umat manusia dengan Allah SWT, hubungan
manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan
hubungan manusia dengan alam.
1. Hubungan Manusia dengan Allah SWT
Orang yang telah benar-benar iman kepada Allah SWT serta mengakui dan meyakini bahwa Islam sebagai agamanya, dengan sendirinya akan beriman kepada ajaran yang telah diwahyukan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW, maupun kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-rasul sebelumnya.
Orang yang telah benar-benar iman kepada Allah SWT serta mengakui dan meyakini bahwa Islam sebagai agamanya, dengan sendirinya akan beriman kepada ajaran yang telah diwahyukan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad SAW, maupun kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul-rasul sebelumnya.
2. Hubungan Manusia dengan dirinya sendiri
Setelah seseorang beriman kepada Allah SWT, beriman kepada Kitab-kitabnya, serta beriman pula kepada Rukun Iman lainnya, ia juga hendaklah menyadari akan fungsi dan kedudukan dirinya. Dengan menyadari akan fungsi dan kedudukan dirinya, manusia tidak akan lupa terhadap dirinya, tidak akan menyiksa, dan tidak akan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Tata cara hubungan manusia dengan dirinya sendiri diatur oleh Allah dalam Al-Quran.
Setelah seseorang beriman kepada Allah SWT, beriman kepada Kitab-kitabnya, serta beriman pula kepada Rukun Iman lainnya, ia juga hendaklah menyadari akan fungsi dan kedudukan dirinya. Dengan menyadari akan fungsi dan kedudukan dirinya, manusia tidak akan lupa terhadap dirinya, tidak akan menyiksa, dan tidak akan berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Tata cara hubungan manusia dengan dirinya sendiri diatur oleh Allah dalam Al-Quran.
3. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia
Setelah kita memantapkan keyakinan terhadap Allah SWT (habluminallah), kemudian menata hubungan dengan dirinya sendiri (hablumminafsi), sebagai mahluk sosial kita dituntut untuk senantiasa berhubungan dengan sesama manusia yang lainnya (hablumminanas). Sebagaimana habluminallah, hablumminafsi, hablumminannas pun diatur oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.
Setelah kita memantapkan keyakinan terhadap Allah SWT (habluminallah), kemudian menata hubungan dengan dirinya sendiri (hablumminafsi), sebagai mahluk sosial kita dituntut untuk senantiasa berhubungan dengan sesama manusia yang lainnya (hablumminanas). Sebagaimana habluminallah, hablumminafsi, hablumminannas pun diatur oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.
4. Hubungan Manusia dengan Alam
Seorang mukmin tidak cukup memperhatikan dirinya sendirinya, memperhatikan sesama manusia yang lainnya, tetapi dituntut pula untuk memperhatikan hubungannya dengan alam sekitar. Allah SWT mengatur hubungan manusia dengan alam sekitar dalam kitab-Nya.
Seorang mukmin tidak cukup memperhatikan dirinya sendirinya, memperhatikan sesama manusia yang lainnya, tetapi dituntut pula untuk memperhatikan hubungannya dengan alam sekitar. Allah SWT mengatur hubungan manusia dengan alam sekitar dalam kitab-Nya.